Feed on
Posts
Comments

Curhat ah…

Hari ini tanggal 25 agustus 2007, wuaaaahhh udah lama banget aku ga posting di blog. Ternyata kesibukan sehari-hari di kantor cukup membuat aku tidak bisa menikmati kehidupan pribadi. Mungkin aku berbeda banget dengan okta yang bisa begitu rajin mengisi blog dia. Kalo dibaca berdasar analisa, pertama di kantor dia bisa akses internet, jadi dia posting kapanpun dia mau, kedua dia bawa pda dopodnya yang bisa ditulisin kalo dia lagi suntuk nunggu sesuatu. berbeda dengan aku yang di kantor kaga bisa internet-an, kalo pun ada station internet itu pun cuma atu dan di pake rame-rame. heheh.. ga mungkin donk mau posting blog sambil ditongkrongin temen laen. hehhehe.. kedua hp ku masih standard punya, belum secanggih dopod nya okta. hahha. ya sudahlah.. mungkin memang pada dasarnya aku belum pandai bagi waktu dan strategi untuk posting.
Agustus ini mungkin jadi bulan yang cukup berat buat aku. tercatat dalam bulan ini adalah rekorku pulang malem dari kantor. sudah sekitar 4 kali aku pulang sampai ke rumah sekitar pukul 10.30 malam, pernah malah sampai jam 11.30 malam. akibatnya kehidupan pribadiku jadi terganggu. Aku tidak tau kenapa bulan agustus ini serasa yang tadi nya dikantor aku bisa rada adem masalah kerjaan sekarang jadi pada numpuk semua kerjaan. Bukan karena aku ga mau kerjain, buktinya aku tiap hari sampe malem-malem tuh kerjaan kaga abis-abis, malahan tiap kali ada meeting tuh kerjaan seperti mengalir kaya air sungai.. busyet dahhhhh… gimana bisa punya anak kalo gini terus. bikinnya aja kaga sempat kali yeeee …heheheh…
Hari ini badanku meriang lagi, setelah 3 hari berturut-turut aku pulang tidak kurang dari jam 10 malam. alhasil hari libur gini aku malah ga bisa menikmati liburanku eh malah tergeletak sakit tak berdaya. udah gitu suami tercintaku malah stress yang aku ngga tau kenapa penyebabnya. yach…. mau gimana lagi, world is not always have perfect condition.
Better malam ini aku memeluk chacha dan chaby tercinta, mengajak mereka bercanda meski mereka tidak mungkin membalas candaanku, jangankan membalas candaanku, bahkan tertawa saja tidak mungkin aku harapkan. tapi setidaknya mereka selalu setia ada disampingku setiap aku membutuhkan mereka dan mereka tidak pernah memberi muka masam ke aku, dan mereka selalu berhasil membuat aku terhibur meski hanya dengan memeluk mereka. the power of chacha and chaby.
Rasanya masih pengen curhat lagi, tapi cukup dulu lah, udah lumayan ringan nih beban di hati. Yach sabtu kelabu, maksud hati pengen liburan, pengen di sayang suami, apa daya semuanya ga kesampaian… life is beautifulllllllll…. smile forever… amin… :)

When I see you smile

Siang ini sambil kerja aku dengerin musik. Dan salah satu lagu yang terputar adalah lagu when I see you smile. Sebenarnya lagu ini sangat menggoda aku untuk aku pasang di blog ini. Jika ditanya mengapa… aku ga bisa jawab, tapi aku percaya suami ku bisa memahami kenapa aku suka sekali dengan lagu ini. Because this song will remind him about something.  

========

Sometimes I wanna give up
I wanna give in,
I wanna quit the fight
And then I see you, baby
And everything’s alright,
everything’s alright

When I see you smile
I can face the world, oh oh,
you know I can do anything
When I see you smile
I see a ray of light, oh oh,
I see it shining right through the rain
When I see you smile
Oh yeah, baby when I see you smile at me

 ====

Please keep on smiling to me…. I love you…

Our Wedding day

Thank God…. itu yang pertama kali aku ucapkan saat selesai melakukan penanda tanganan surat catatan sipil. Yang artinya aku dan okta sudah resmi jadi pasangan suami istri.

Dimulai pukul 02.30 dini hari, alarm di handphone ku berbunyi. Artinya aku harus mandi karena pukul 03.30 kami serombongan (mulai dari mamaku, mama okta, cici okta, aku dan okta) harus sudah siap di SIGA. Alhasil ternyata kami memang berhasil sampai ke SIGA tepat pukul 03.30. Ternyata kalo urusan udah urgent gini pada bisa disiplin juga yach. hehehhe.. (termasuk aku tentunya).

Langsung deh aku di dudukin dikursi riasnya Yuli (make up artis yang ngurusin make up dan rambut dari prewedd hingga wedding). Mulai deh tempel foundation, cukur alis, pasang bulu mata… heheh… hasil ringkasnya… aku jadi cantik deh..

ehm… ehm… kayanya aku ga sabar deh nulis satu-satu.. soalnya ini lagi ngetik di rumah dan kipas angin mati, jadi panas banget….. boleh aku cepetin aja yach ceritanya… hihihiii..

Singkat cerita pukul 08.30 aku dan okta keluar dari SIGA menuju ke rumah di rasamala, karena terlalu pagi untuk langsung ke gereja. Di rumah kami sempat buka foto studio dadakan hehehe.. yach sambil ngisi waktu kita berpose-pose dulu dengan latar belakang tembok rumah. heheh. norak yach…

Pukul 10.15 kami meninggalkan rumah dan menuju ke gereja yang jaraknya ga lebih dari 200 meter dari rumah kami. Pukul 10.30 tepattttt kami turun dari mobil dan mulai menapaki lorong gereja untuk menyatukan komitment kami…

bersambung……

Loving you

Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil, saya melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga.
Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak baik, pagi hari hanya bisa makan bubur.
Setelah itu, masih harus memasak sepanci nasi untuk anak-anak, karena anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan, perlu makan nasi, dengan begitu baru tidak akan lapar seharian di sekolah.

Setiap sore, ibu selalu membungkukkan nbadan menyikat panci, setiap panci di rumah kami bisa dijadikan cermin, tidak ada noda sedikikt pun.
Menjelang malam, dengan giat ibu membersihkan lantai, mengepel seinci demi seinci, lantai di rumah tampak lebih bersih dibanding sisi tempat tidur orang lain, tiada debu sedikit pun meski berjalan dengan kaki telanjang.

Ibu saya adalah seorang wanita yang sangat rajin. Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang baik.
Dalam proses pertumbuhan saya, tidak hanya sekali saja ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam perkawinan, tidak memahaminya.
Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab. Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan saat libur juga masih mengatur jadwal sekolah anak-anak, mengatur waktu istrirahat anak-anak, ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berpretasi dalam pelajaran. Ia suka main catur, membuat kaligrafi, suka larut dalam dunia buku-buku kuno.

Ayah saya adalah seoang laki-laki yang baik, di mata anak-anak, ia maha besar seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan mendidik kami.
Hanya saja, di mata ibuku, ia juga bukan seorang pasangan yang baik, dalam proses pertumbuhan saya, kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam diam di sudut halaman. Ayah menyatakannya dengan kata-kata, sedang ibu dengan aksi, menyatakan kepedihan yang dijalani dalam perkawinan.

Dalam proses pertumbuhan, aku melihat juga mendengar ketidakberdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya mereka, dan mereka layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik.

Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia, kehidupan perkawinan mereka lalui dalam kegagalan, sedangkan aku, juga tumbuh dalam kebingungan, dan aku bertanya pada diriku sendiri : Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?

Pengorbanan yang dianggap benar.
Setelah dewasa, saya akhirnya memasuki usia perkawinan, dan secara perlahan -lahan saya pun mengetahui akan jawaban ini.
Di masa awal perkawinan, saya juga sama seperti ibu, berusaha menjaga keutuhan keluarga, menyikat panci dan membersihkan lantai, dengan sungguh-sungguh berusaha memelihara perkawinan sendiri.
Anehnya, saya tidak merasa bahagia ; dan suamiku sendiri, sepertinya juga tidak bahagia. Saya merenung, mungkin lantai kurang bersih, masakan tidak enak, lalu,
dengan giat saya membersihkan lantai lagi, dan memasak dengan sepenuh  hati. Namun, rasanya, kami berdua tetap saja tidak bahagia. .Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk membersihkan lantai, suami saya berkata : istriku, temani aku sejenak mendengar alunan musik!

Dengan mimik tidak senang saya berkata : apa tidak melihat masih ada separoh lantai lagi yang belum di pel ? Begitu kata-kata ini terlontar, saya pun termenung, kata-kata yang sangat tidak asing di telinga, dalam perkawinan ayah dan ibu saya, ibu juga kerap berkata begitu sama ayah.
Saya sedang mempertunjukkan kembali perkawinan ayah dan ibu, sekaligus mengulang kembali ketidakbahagiaan dalam perkwinan mereka.

Ada beberapa kesadaran muncul dalam hati saya.
Yang kamu inginkan ? Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu memandang suamiku, dan teringat akan ayah saya. Ia selalu tidak mendapatkan pasangan yang dia inginkan dalam  perkawinannya, Waktu ibu menyikat panci lebih lama daripada menemaninya. Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga, adalah cara ibu dalam mempertahankan perkawinan, ia memberi ayah sebuah rumah yang bersih, namun, jarang menemaninya, sibuk mengurus rumah, ia berusaha mencintai ayah dengan caranya, dan cara ini adalah mengerjakan urusan rumah tangga.
Dan aku, aku juga menggunakan caraku berusaha mencintai suamiku. cara saya juga sama seperti ibu, perkawinan saya sepertinya tengah melangkah ke dalam sebuah cerita, dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia.

Kesadaran saya membuat saya membuat keputusan (pilihan) yang sama.
Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di sisi suami, menemaninya mendengar musik, dan dari kejauhan, saat memandangi kain pel di atas lantai seperti menatapi nasib ibu. Saya bertanya pada suamiku : apa yang kau butuhkan ? Aku membutuhkanmu untuk menemaniku mendengar musik, rumah kotor sedikit tidak apa-apa-lah, nanti saya carikan pembantu untukmu, dengan begitu kau bisa menemaniku! ujar suamiku.

Saya kira kamu perlu rumah yang bersih, ada yang memasak untukmu, ada yang mencuci pakianmu..dan saya mengatakan sekaligus serentetan hal-hal yang dibutuhkannya. Semua itu tidak penting-lah!ujar suamiku. Yang paling kuharapkan adalah kau bisa lebih sering menemaniku.
Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan, hasilnya benar-benar membuat saya terkejut. Kami meneruskan menikamti kebutuhan masing-masing, dan baru saya sadari ternyata dia juga telah banyak melakukan pekerjaan yang sia-sia, kami memiliki cara masing-masing bagaimana mencintai, namun, bukannya cara pihak kedua.

Jalan kebahagiaan
Sejak itu, saya menderetkan sebuah daftar kebutuhan suami, dan meletakkanya di atas meja buku, Begitu juga dengan suamiku, dia juga menderetkan sebuah daftar
kebutuhanku. Puluhan kebutuhan yang panjang lebar dan jelas, seperti misalnya, waktu senggang menemani pihak kedua mendengar musik, saling memeluk kalau sempat, setiap pagi memberi sentuhan selamat jalan bila berangkat.

Beberapa hal cukup mudah dilaksanakan, tapi ada juga yang cukup sulit, misalnya dengarkan aku, jangan memberi komentar. Ini adalah kebutuhan suami. Kalau saya memberinya usul, dia bilang akan merasa dirinya akan tampak seperti orang bodoh.
Menurutku, ini benar-benar masalah gengsi laki-laki. Saya juga meniru suami tidak memberikan usul, kecuali dia bertanya pada saya, kalau tidak saya hanya boleh mendengar dengan serius, menurut sampai tuntas, demikian juga ketika salah jalan.

Bagi saya ini benar-benar sebuah jalan yang sulit dipelajari, namun, jauh lebih santai daripada mengepel, dan dalam kepuasan kebutuhan kami ini, perkawinan yang kami jalani juga kian hari semakin penuh daya hidup. Saat saya lelah, saya memilih beberapa hal yang gampang dikerjakan, misalnya menyetel musik ringan, dan kalau lagi segar bugar merancang perjalanan keluar kota.

Menariknya, pergi ke taman flora adalah hal bersama dan kebutuhan kami, setiap ada pertikaian, selalu pergi ke taman flora, dan selalu bisa menghibur gejolak hati masing-masing. Sebenarnya, kami saling mengenal dan mencintai juga dikarenakan kesukaan kami pada taman flora, lalu bersama kita menapak ke tirai merah perkawinan, kembali ke taman bisa kembali ke dalam suasana hati yang saling mencintai bertahun-tahun silam.
Bertanya pada pihak kedua : apa yang kau inginkan, kata-kata ini telah menghidupkan sebuah jalan kebahagiaan lain dalam perkawinan.

Keduanya akhirnya melangkah ke jalan bahagia. Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa bahagia, mereka terlalu bersikeras menggunakan cara sendiri dalam mencintai pihak kedua, bukan mencintai pasangannya dengan cara pihak kedua.
Diri sendiri lelahnya setengah mati, namun, pihak kedua tidak dapat merasakannya, akhirnya ketika menghadapi penantian perkawinan, hati ini juga sudah kecewa dan hancur.
Karena Tuhan telah menciptakan perkawinan, maka menurut saya, setiap orang pantas dan layak memiliki sebuah perkawinan yang bahagia, asalkan cara yang kita pakai itu tepat, menjadi orang yang dibutuhkan pihak kedua! Bukannya memberi atas keinginan kita sendiri, perkawinan yang baik, pasti dapat diharapkan.

Giving and receiving gifts is a wonderful exchange that shows we care. One would think that any gift that is given from the heart is good. Unfortunately, that is not always the case. An inauspicious gift is bad news no matter how noble your intentions are. Taken in a Feng Shui perspective, some things are worse compared to others. Here are the top 5 gifts you should never give to anyone.

 

1. Never Give Sharp Objects

Gifts of sharp objects are actually more popular than one would expect because most people don’t see them as such. Examples of sharp objects that are unsuitable as gifts include the following: blade, chainsaw, dagger, hunting knife, letter opener, penknife, scissors, Swiss Army knife, sword, etc (see anything familiar here).

There are a couple of reasons that make sharp items objectionable. Giving sharp objects as a gift will literally sever the friendship. As sharp objects are a natural source of malicious “killing breath” or Shar Chi, such gifts will result in you unintentionally sending bad luck to your friend.

 

2. Never Give Timepieces

In the West, timepieces are, in fact, quite well-liked as gifts. These include: alarm clock, wall clock, pocket watch, wristwatch, etc.

Timepieces measure the passage of time and this indirectly suggests a limited lifespan, which is very inauspicious. In Chinese (Cantonese), to give a clock or soong joong sounds exactly like the Chinese term for attending a funeral, which is naturally very taboo.

3. Never Give Red Roses

Did you know that you should never give red roses? Long stemmed red roses with sharp thorns are terrible as gifts. The longer the stem and the sharper the thorns … the more the relationship will suffer. If you send your lover a bouquet of red roses - romantic and all - it will be the beginning of the end of the relationship.

It is better for you to give cream or pink roses. Feng Shui-wise, yellow roses work even better to help enhance that loving feeling. Remember to have the thorns removed before you deliver them to your lover.

Never send red and white roses to a loved one who is in hospital. These are so inauspicious that in hospitals all over UK, there is the tradition with regards to floral gifts from well-wishers. If bunches of red and white roses or any variety of flowers arrive for anybody, they throw the flowers away immediately and make sure none of them reach the patients. A gift comprising a bunch of red and white blooms are considered to be a DEATH WISH.


4. Never Give Shoes

In Chinese (Cantonese), the word for shoes, ‘hai’, sounds very much like a sigh. This is very inauspicious as it suggests much unhappiness. A gift of shoes to your friend would be akin to sending bad luck his/her way.

5. Never Give Handkerchiefs

Gifts of handkerchiefs are also traditionally frowned upon. This is because a handkerchief is used to wipe away sweat and tears, which suggests a lot of sadness and frustration. Giving handkerchiefs as gifts suggest that you anticipate him/her to be doing much crying in the future. This generates such an inauspicious chi.

Remedy For Your Predicament

What do you do if you have a really fantastic gift? Something that you know your friend will be truly ecstatic about? Well I have some good news for you. The Chinese have a simple remedy for sharp metal gifts that belong to the first category.

Ask for a coin or some change (make sure it is metal) before you present your gift to the recipient. This simple exchange symbolizes a “purchase”, instead of a “gift”. Since your friend symbolically “paid” for the item, it is no longer considered a “gift”. This uncomplicated remedy works only for sharp metal items.

« Newer Posts - Older Posts »