Stop ! Listen to me
Mar 7th, 2007 by donamelia
Kata buku-buku waktu jaman sekolah, manusia adalah mahluk sosial yang dalam arti gampangnya, manusia membutuhkan manusia lain. Salah satu contoh nyata kita sebagai manusia membutuhkan orang lain adalah saat berbicara. Untuk orang theater mungkin terbiasa ngomong sendiri didepan kaca (hehhehe..) karena mereka perlu mendalami ekspresi yang mereka tampilkan, tapi untuk orang awam yang ngomong sendiri didepan kaca kalo keseringan bakal dibilang “rada miring” alias kewarasannya diragukan. Jadi posisi normalnya adalah saat manusia berbicara dengan manusia lain. Meski dalam perkembangannya bermunculan perkembangan istilah selain ngobrol, misalnya bergosip, meeting, sms, chatting, email dll. Semua itu perkembangan dari sebuah inti masalah, yaitu komunikasi antar manusia.
Dalam keseharian kita, coba hitung berapa banyak kita mengeluarkan kata-kata dalam sehari. Ada penelitian yang mengatakan bahwa wanita sanggup bahkan sudah menjadi hasrat alami untuk mengeluarkan lebih banyak kata daripada pria dalam sehari.
Sekarang mari kita amati bersama gaya berbicara dari masing-masing lawan bicara anda..
Apakah lawan bicara anda seorang yang ….
- hanya manggut-manggut mendengarkan yang anda bicarakan
- mendengarkan dengan tatapan kosong
- terlihat mendengarkan dengan serius tanpa suara
- mendengarkan anda dan sesekali memberi empati
- mendengarkan anda dan kemudian memotong untuk berbicara tentang dirinya sendiri
- mendengarkan anda, tapi sebelum anda selesai berbicara sudah memotong anda dan mengira sudah mengetahui semua yang ingin anda katakan untuk kemudian memberi solusi.
dan masih banyak lagi tipe-tipe yang lainnya. Semakin anda memahami gaya dari lawan bicara anda, maka akan semakin baik pula anda memahami bagaimana cara anda harus berbicara. Dan jika anda menjadi lawan bicara jangan pernah bersikap seperti judul diatas.. Stop talking! listen to me.. jangan pernah memotong pembicaraan orang lain.
(ditulis berdasar pengalaman pribadi.)

menurut majalah kosmo wanita membutuhkan mengeluarkan minimal 20,000 kata per hari agar tidak stress