Feed on
Posts
Comments

Siap grakkkkk…. biasanya kita dengar aba-aba tersebut saat upacara, entah upacara rutin hari senin atau upacara khusus pas Kemerdekaan (jadi pada inget sama sekolah dulu kan). Tapi ‘SIAP’ kali ini buat aku bukan karena upacara tapi karena oten kecilku.

Hari ini (12 February 2009) usia kandunganku tepat di 38 minggu, si oten kecil dari pagi udah ga mau diem. Entah karena dia tau nanti malem mau kontrol dokter atau emang dia udah ngrasa didalem perutku udah sempit banget karena dia tambah besar. Waktu kontrol minggu kemarin (37 minggu) berat perkiraan oten masih 2,7 kg, nanti malem jadi berapa yach ?? Yang bikin aku sedikit sedih minggu kemarin adalah posisi oten. Waktu minggu ke 36 saat di usg posisinya masih manis banget, kepala dibawah kaki diatas. Jadi aku udah tenang dan berharap diminggu -37 udah bisa posisi mantap masuk ke panggul. Eh ngga taunya… di minggu ke -37 waktu usg posisinya malah melintang.. gubraxxx… paniklah aku.. ini anak kok ngajak maen-maen. Tapi aku masih tetap berusaha optimis. Tiap hari pagi sore (kalo hari kerja) nunggin minimal 15 menit per sesi, dan kalo hari libur kaya hari sabtu atau minggu udah ga kehitung lagi berapa banyak aku latihan nungging. Tapi di minggu ke -38 ini oten masih tetep kekeuh dengan posisi melintangnya. puffffff…

Artinya secara lahir dan batin aku harus belajar mempersiapkan diri untuk menerima kenyataan bahwa bisa jadi kelahirannya melalui operasi caesar. Padahal dari awal kehamilan aku udah bertekad untuk melahirkan normal, kalau pagi abis berdoa aku slalu ngajak ngobrol oten ngasih tau kalo lahir nanti normal aja, jangan caesar.. apa dia salah denger yach ????

Akhir-akhir ini aku jadi lebih sering browsing tentang operasi caesar, yach untuk mempersiapkan lahir dan batin tadi itu. Meski sampai detik ini aku masih berusaha dan berharap dia bisa muter kembali ke posisi normal, tapi aku juga harus realistis bahwa disisi lain aku juga harus mulai mempersiapkan seandainya tetap ga bisa melahirkan normal.

Sedari kecil aku belum pernah dirawat di rumah sakit, dan ini akan jadi pengalaman pertamaku tidur di rumah sakit. Salah satu alasanku kenapa pengen banget lahir normal (meski banyak orang bilang sakitnya setengah ampun) adalah cuma butuh 3 hari di rumah sakit, sedangkan caesar butuh minimal 5 hari dirumah sakit. Tapi itu cuma sekelumit alasan dari puluhan alasan lain kenapa aku pilih lahirin normal aja.

Temen-temen, doain aku yach.. semoga kelahiran oten lancar dan ga ada halangan yang berarti. Kemungkinan minggu depan oten lahiran.. iiihhh udah pengen ketemu.. pengen tau kaya apa sih anakku yang suka nendang-nendang dan ga kenal situasi (kadang pas presentasi dia nendang kenceng banget… heheh… )

Bagi yang belum tau bagaimana story kata ‘gembil’ itu muncul, silahkan klik di link berikut

http://oktaendy.iwuvya.com/blog/2008/11/28/usg-4d

Posting ini menyambung posting di blog Okta, maklum lah suami istri jadi critanya harus saling melengkapi :)

Sebenarnya USG ini direncanakan jauh-jauh hari untuk dilaksanakan pukul 15.00, namun ternyata pagi hari sekitar pukul 10.00 pihak rumah sakit melakukan reschedule dimajukan menjadi pukul 14.00 karena dokter yang melakukan USG akan melakukan penanganan pada pukul 15.00. Maka paniklah aku dan okta mereschedule planning berangkat kami, dari mulai kapan okta harus start, sampai bagaimana aku harus makan siang.

Okta sangat perhatian, waktu jemput aku sebenarnya dia udah bawain soto untuk aku makan. aku udah prepare pinjem mangkok dari kantor, tapi karena takut tumpah kalo makan dijalan, akhirnya aku putuskan ga makan dulu sebelum sampai ke rumah sakit. Sepanjang jalan aku stress berat, stress liat okta stress. Ini jadi stress sambungan. Alhasil, aku sempat muntah 1 kali di perjalanan dan waktu turun dari mobil cuma bisa jalan 10 langkah terus harus istirahat dulu, dan baru diteruskan 10 langkah lagi, begitu seterusnya sampai duduk di kursi didepan bagian lab.

Setelah aku duduk dikursi, okta melakukan pendaftaran ke bagian radiologi. Selesai daftar ulang, aku dan okta minta ijin untuk makan dulu, karena wajahku udah pucat banget (sampai okta berharap di reschedule aja). Aku dan okta ke kantin, karena aku susah banget untuk menelan makanan akhirnya aku cuma makan setengah aja, dan setengah lagi dihabiskan okta. Untuk melengkapi gizi yang dibutuhkan aku pesan jus alpukat dan teh manis hangat. Syukurnya 10 menit selesai makan dan minum, berangsur-angsur kondisiku membaik. Sekarang saatnya kami masuk ke ruang USG 4D.

Masuk ke ruang 4D, memang kecil persis seperti kata okta. Ruang cuma sekitar 1,5 x 3,5 m cuma cukup untuk alat usg, 1 ranjang, 1 kursi dokter dan 1 kursi untuk pendamping. Mulailah proses pemeriksaan. Awalnya yang diperiksa di bagian tulang belakang, aduhhh aku ngrasa kasihan banget… oten keliatan kurus banget (meski kata dokternya itu normal karena ini baru mulai penumpukkan lemak). Cuma tetep yang aku heran, badan kurus kok pipi tembem yach ?? apa semua lemak lari ke pipi dulu yach ?? hehehe…

Aku ga bisa mengungkapkan dengan kata-kata deh waktu liat proses usg nya dari layar monitor, bagi para wanita yang pernah mengalami (apalag untuk anak pertama) pasti mengalami rasa takjub ada mahluk hidup, penerus generasi, dari sel hidup kita.. wow.. takjub banget deh.

Liat gerakannya oten sempat geli juga, dia ga mau diliat wajahnya. Tangan kanannya yang mungil itu menutupi wajahnya, kemudian terlihat jari-jarinya.. ih lucu banget.. mungil gitu (yach kalo gede kan serem .. hahha) terus pas dia menguap baru keliatan wajahnya karena tangannya rada turun. mulut kecilnya menguap.. wah takjub deh.. di dalam kandungan yang penuh air ketuban dia bisa menguap gitu, terus tangannya yang kecil itu mulai membuat jurus-jurus aneh, dari jurus ular sampai tai chi. (hahha.. itu ejekanku ke dia aja, karena tangannya aktif gerak terus). Terus diliatin bagian kaki, kepala, jantung… kakinya mungil.. imut.. (Wah senengnya aku jadi calon ibu. hehheeh.. norak yach… )

Intinya oten mungilku sehat (sejauh hasil usg dari dokter) tapi memang kurang gemuk, karena secara grafik masih sedikit dibawah grafik. Jadi aku harus kerja keras untuk mengejar ketinggalan berat badan. (cayo… cayo… pasti bisa)

ehm… sudah dulu ya ceritanya.. okta udah jemput diluar. Kasihan kalo nunggu diluar kelamaan…

Impian indah

Kalo lagi diatas motor, sering banget aku mikir mau nulis apa yach di blog. Kasihan blog ini udah beberapa bulan ga disuplai artikel baru. Tapi giliran udah di depan komputer, eh ternyata pusing juga mau nulis apa. Sering banget aku kagum ama okta, kok bisa yach dia nulis segitu rajin. ehmmm.. tapi sering juga aku tersadar bahwa wajar juga sih, emang disegala bidang dia lebih rajin dari aku. Dari mulai dari bangun pagi, sampai urusan kerja di depan komputer, oh ya sampai ke urusan menyelesaikan seri DVD. Tapi kayanya akhir-akhir ini penyakit malas ku mulai menular ke okta juga, buktinya pagi ini kami berdua bangun kesiangan (meski sebenarnya hampir setiap hari aku bangun kesiangan). Dah hasilnya kami berdua terburu-buru berangkat, dan seperti yang anda semua ketahui mengenai betapa macetnya jakarta (meski saat bulan puasa begini). Alhasil bercampur antara emosi, rada khawatir terlambat (meski udah pasti), dan berharap kemacetan cepat berlalu, kami melalui jalan jakarta untuk sampai ke kantor. Sampai dikantor ku okta langsung buru-buru jalan lagi sampai lupa blessing aku dan baby oten seperti yang seharusnya dia lakukan tiap hari. Tapi yach namanya buru-buru, akhirnya aku blessing sendiri aja diriku dan baby oten.

Ga tau gimana cerita dia di kantor. tapi begitu sampai ke ruangan kerja aku langsung sibuk berkutat dengan project ku yang serasa never ending ini. Dipenuhi many changes, many new request dan many many many kebawelan dan kepentingan politik kantor, hal-hal yang akhir-akhir ini membuat aku sibuk berpikir harus manusia menjadi sebegitu repotnya menyelamatkan kepentingannya (bahkan kadang tanpa berpikir panjang dan resikonya).

Aku pun teringat apa yang pernah aku dengar di sebuah radio (ini kalo pas sempet berangkat pake mobil kantor). Apa sih tujuan hidup kita? apakah uang ? kalo uang, rasanya itu bukan value yang cukup berarti untuk sampai harus dikejar mati-matian. lalu kalo bukan uang terus apa ? Kebahagiaan ? tapi kebahagiaan macam apa ? sebuah permainan pikiran yang masih terus ada di pikiran sebagian orang. mau jadi apa sih kita ini? kita mau hidup kita seperti apa ? impian apa yang mau kita capai ? masuk akal ga sih impian kita ? mau berapa lama impian kita tercapai ? wah ternyata banyak juga yach pertanyaan kehidupan…

Saat ini mungkin aku hanya mau yang simple aja. Menikmati setiap moment bahagia yang aku dapatkan. Menikmati saat aku gemes liat wajah okta yang tiap malem berebut selimut tebal dengan aku, menikmati saat okta tiap pagi dan malam menyodorkan susu ibu hamil, menikmati saat aku memeluk chacha, menikmati saat aku berbicara dengan mamaku di telp, menikmati mimpi malamku bertemu dengan papa tercinta (meski tanpa suara), menikmati debat dengan customer tentang request-request yang kadang aneh dan membingungkan, menikmati dikejar-kejar deadline, menikmati usg yang dilakukan dr. boy untuk melihat baby oten, menikmati kemacetan kota jakarta dengan rasa syukur bahwa ternyata makin banyak orang mampu beli mobil ato motor. Intinya menikmati setiap hal di dunia ini baik dalam kondisi positif maupun yang terlihat negatif. Tapi semua itu belum menjawab impianku. Impianku adalah punya keluarga yang bahagia, aku ga butuh karir sempurna, tapi aku ingin punya keluarga sempurna, meski sempurna itu hampir tidak ada didunia ini, tp minimal aku bisa memiliki keluarga terharmonis sejauh kami bisa, dan semua itu tidak perlu diukur dengan betapa tinggi jabatanku, berapa besar penghasilanku maupun suamiku, berapa banyak deposito atau berapa reksa dana yang kami punya.

Dan untuk mencapai semua itu aku tau tidak seperti di sinetron atau telenovela yang semua bisa terlihat serba instan, semua pasti butuh usaha. Dan aku itulah impianku, impian yang ingin aku kejar. Amin.

Jadi apa impian anda ??

Hari - hari begitu berat aku lalui setelah kepergian papa. Maklumlah aku anak tunggal, yang artinya semua tanggung jawab rumah tangga secara otomatis berpindah ke diriku. Awalnya aku merasa pusing tujuh keliling, hampir tiap waktu aku berteriak “OMG berat sekali, bisa cepet tua nih kalo gini terus”.

Dalam segala kepusingan itu aku semakin dalam mendekatkan diri dengan Tuhan memohon kekuatan dan jalan. Yach syukurlah, meski masih dalam proses tapi sedikit demi sedikit aku sudah mulai bisa membiasakan diri dengan tanggung jawab tersebut. Dan pagi tadi saat bangun dari tidur nyenyak semalam aku melihat matahari bersinar dengan cerahnya. Aku bersyukur Tuhan masih memberi anugrah kehidupan yang indah pada diriku. Akupun bersyukur bahwa aku bisa melihat hari demi hari berjalan dengan semakin indah.

Semoga aku dapat terus bertahan dan semakin mensyukuri seluruh anugrah yang Tuhan berikan.

Refleksi diri : 28 Mei 2008

Never Forget

Hari Sabtu tanggal 5 April 2008, sekitar pukul 6 pagi aku menerima telp dari mama yang mengabarkan papa telah tiada.
Kaget, shock, dan bingung melanda emosiku.
Tidak banyak yang bisa aku pikirkan saat itu, selain 1 hal yaitu cari tiket ke semarang secepatnya !!!.

Hari ini tanggal 17 april 2008, aku masih tidak mampu menuliskan emosiku dalam blog ini. Saat aku mengetikan sekelumit tulisan ini pun aku masih saja berusaha menahan air mataku.

Sulit mempercayai ayahku tak lagi mendampingi aku secara fisik, meski aku selalu percaya ayahku akan selalu disampingku di setiap detik hidupku, mengarahkanku, membimbingku dalam bentuk yang berbeda.

selamat jalan papa tercinta, aku sayang papa…

in memoriam : Hadi Pramana - Bee Tiauw Tjwan (5 November 1938 - 5 April 2008)

Older Posts »